Belajar Menulis itu menambah ilmu
pengetahuan
Oleh : Rijuna M
Menulis,
apa yang ada dibenak anda saat pertama kali mendengar kata menulis? sesuatu
kegiatan yang menyenangkankah? atau malah sebaliknya, bahwa menulis sebuah
karya adalah sesuatu yang menjengkelkan bagi kita dan memilih lebih baik saya membaca sebuah
buku seperti novel dibandingkan saya harus menuliskan sesuatu kedalam sebuah
buku, blog ataupun membuat sebuah artikel tersendiri. Bagi sebagian dari kita
mungkin lebih suka menikmati dengan cara membaca dari pada menulis dikarenakan
menulis itu kita harus memikirkan apa yang harus kita sampaikan, merangkai
kata, memilih diksi sampai bisa masuk kedalam kognisi,afeksi dan bahkan membuat
orang lain tergerak dari hasil karya tulis kita.
Kali ini
penulis ingin mencoba menyampaiakan pengalaman penulis secara pribadi bagaimana
penulis bisa suka mulai menulis apa saja. Hal apapun yang bisa membuat kita
senang atau suka dalam menulis, memang bagi sebagian orang tak dapat dipungkiri
bahwa menulis sebuah karya tulis baik itu karya ilmiah atapun karya tulis
fiktif lainnya adalah sesuatu yang membosankan dan tidak menyukainya karena
dirasa terlalu puitis, atau terlalu sulit menuangkannya dan terlalu lama dalam
proses pembuatannya, hal ini juga awalnya dialami oleh penulis karena penulis
dulunya juga tidak suka menulis bahkan kurang minat juga dalam membaca buku,
namun yang membuat pertama kali penulis awalnya mulai suka dalam menulis itu
berawal dari sebuah Renungan kecil-kecilan, dengan berbekal kebiasaan yang
ditanamkan dalam hal pengamatan akhirnya penulis mulai mengamati apa saja yang
bisa penulis amati, mulai dari benda-benda kecil yang ada disekitar kita, benda
yang kita miliki , lalu mengamati sikap diri ketika berinteraksi dan mengamati
interaksi sosial sesama pertemanan biasa. awalnya penulis hanya berada di tahap
pertama yakni pada tingkat hanya mengamati saja, namun penulis merasa dari
hasil pengamatan lingkungan itu terasa kurang berhikmah dan hanya sekedar data
yang masuk saja kedalam pikiran penulis, lalu mulai masuk kepada tahap
selanjutnya, mulai mencoba mencari hubungan sebab-akibat dari realitas-realitas
dari kejadian-kejadian yang ada di sekitar kita, penulis mulai mengamati alam
sekitar karena penulis suka sekali dengan alam, penulis mengamati hujan kenapa
hujan turun begitu deras dengan airnya yang begitu banyak jatuh
kebumi,sampai-sampai penulis sempat berfikir tentang hujan itu sendiri bahwa
kenapa Allah menurunkan hujan dengan begitu derasnya dan banyaknya air yang
jatuh kebumi dan kebuang begitu saja padahal menurut data yang pernah penulis
baca bahwa ada ±6 juta ton air yang turun dari langit kebumi setiap harinya
diakibatkan hujan dan hanya 3% doang air tawar yang ada di bumi sedangkan 97% lainnya
adalah air laut, dari fenomena itu masih banyak di belahan dunia ini yang masih
membutuhkan air dan merasakan kekeringan air tapi kok bisa ya Allah menurunkan
hujan dan membuang-buang airnya secara Cuma-Cuma apalagi di musim hujan saat
ini hal inikan sama saja Allah mengajarkan kita pada kemubadziran dengan
membuang-buang sumber daya Alamnya dan mengajarkan kemubadziran padahal ia juga
menyuruh kita untuk tidak berlaku demikian, awalnya saya juga bingung dengan
hal itu apa jawabnya akhirnya tiba-tiba dapat hidayah, bahwa tidak seperti yang demikian
saya bayangkan barusan ternyata hujan
turun ada manfaatnya juga yakni menyirami tanaman atau tumbuhan
yang amat luas di muka bumi ini yang bahkan petugas tanaman kota Surabaya aja
tidak bisa menyirami semua tumbuhan yang
ada,dari situ akhirnya saya menemukan jawabnya Allah pasti ada alasannya dalam
menurunkan sesuatu kepada manusia. Nah itu salah satu contoh kalau kita sering
mengamati dan Alhamdulillah mendapatkan hidayah atas jawabannya, bermula dari
situlah saya merasakan senangnya memikirkan hal-hal yang filosofis dan itu bisa
di Tarik hikmahnya lalu saya berfikir untuk mencoba menuliskannya satu persatu,
dan percaya pasti disetiap perjalanan dan perenungan mengenai segala nikmat allah pasti ada sesuatu yang
bisa dijadikan pembelajaran bagi kita dan saya mau itu bisa di tuliskan supaya
bisa menjadi pengingat bagi saya dan motivasi bagi saya.
Berbicara
mengenai nikmat allah yang bisa dijadikan pembelajaran berarti segala sesuatu
apapun itu yang ada di bumi yang bisa di jadikan pelajaran, jika demikian
maka saya pun akhirnya berkaca pada
firman Allah pada Surah Al-Luqman ayat
27.
Kalimat pada
ayat ini ternyatalah yang membuat saya semakin kuat dan keras percaya pada kemampuan dan
percaya pada jalan atau sunatullahnya bahwa karunia Allah tak terbatas
sampai-sampai digambarkan bagaikan Air laut dijadikan tintanyapun habis diisi lagi, habis di isi lagi, pasti takan
cukup jika kita menuliskan nikmatnya, dalam artian menurut sudut pandang penulis
bahwa surat ini menjelaskan betapa luasnya Ilmu pengetahauan dan nikmat Allah
yang bisa diambil dan bisa dijadikan pelajar, Bahkan jika saudara tahu Perpustakaan
terlengkap dan terbesar dunia sekalipun itu belum cukup lengkap bagi kita untuk
menuliskan segala nikmatnya Allah dengan berbagai pengetahuan yang ada didunia
ini, mulai dari teori-teori dari ilmuwan terdahulu, Newtoan, Einsten, ibnu
sina, penemu-penemu islam dan masih banyak lagi tentunya, itu tuh masih belum
ada apa-apanya menurut penulis karena bilapun teori mereka di bukukan menjadi sebuah karya buku yang amat
tebalpun dalam satu teori itu belum
mampu menuliskan seluruh nikmat Allah yang ada di alam semsta ini. Tidak hanya
berbicara penemuan yang dilakukan oleh ilmuwan, sempat juga penulis berfikir
bahwa jika saja setiap mahasiswa setara 1 (S1) saja diwajibkan untuk membuat
penelitian yakni skripsi 1 orang 1 penelitian, bayangkan saudara-saudara jika
ada jutaan orang atau jutaan mahasiswa yang tiap tahaunnya lulus dan menuliskan
semua ilmunya dalam penelitian skripsi sudah sebanyak apa penemuan-penemuan
atau ilmu-ilmu yang bisa kita petik dan di aplikasikan ??terbayangkan betapa
luasnya anugrah ilmu pengetahuan itu? itu tadi hanya contoh kecil dari
penulisan skripsi dari mahasiswa S1 di indonesia belum lagi taraf Dunia
ditamabah lagi yang S2,S3,penulis-penulis terkenal ? luar biasa bukan ? berapa
banyak buku dan penelitian yang tercipta setiap tahunnya ?! apalagi jika bisa
di terapkan. Maka semua orang yang memabacanya maka akan menjadi lebih baik lagi
dan masyarakat thoyibahpun bisa juga tercapai dengan cepat jika karya-karya dan buku kita bisa di manfaatkan
untuk khalayak ramai dan pembangunan masyarakat di segala aspek.sungguh Luar
biasa bukan menulis dan mengamati atau meneliti sesuatu itu? Dengan demikian tidak
ada batas diantara kita untuk mengatakan menulis atau membukukan suatu
permasalahan dan mencari solusinya adalah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan
semua orang. Jika kita sadari itu!! bahkan orang malas atau yang belum pernah
menulispun seharusnya bisa menulis sebuah karangan apapun atau karya ilmiah
kita masing-masing. Jangan bohongi diri sendiri dengan mengatakan AKU TIDAK
BISA MENULIS dan tidak bisa menciptakan karya, yakinlah setiap orang dari kita
sudah tak asing lagi di dunia moderen ini setiap orang tidak pernah menulis sesuatu
atau membuat status pada akun media sosialnya dengan berbagai isi dan
pemaknaan-pemaknaan dari aktivitas keseharian kita yang sering penulis jumpai
di media sosial, atau bahkan minimal pada buku harian mungkin kita dulu pernah
menuliskannya hal itu adalah salah satu
contoh yang paling dekat dengan kita dan harus kita sadari bahwa setiap orang
pasti punya potensi itu, potensi dalam menulis, potensi dalam menilai dan
memaknai sesuatu kejadian hingga bisa menarik hikmah sendiri seperti yang
sering penulis jumpai di media sosial. Tinggal bagaimana kita menggalinya,
menggali dan memaknai nikmat Allah yang
teramat luas ini untuk kebaikan. Sehingga jangan pernah lelah dalam menulis apapun
itu hingga kita terbiasa dan terlatih
dari hasil pengamatan itu, seminimalnyapun pasti selalu ada karya kita dalam
menulis sesuatu dan mulailah menulis dari hal sekecil apapun hingga engkau
terbiasa untuk menuliskan sesuatu karya
yang patutu dibanggakan bagi diri sendiri, kita atau bahkan umat manusia hingga menelurkan berbagai karya
yang bermanfaat bagi Umat manusia.
“Menulislah karena menulis adalah sebuah keberanian dalam
mengungkap sesuatu”
- Rijuna-.
-Semoga
Terinspirasi-
Soerabaya, Rabu, 01 Februari 2017, 22:05
Edisi: 02/H01/RM/2017

Komentar
Posting Komentar